Menko Luhut Yakin Proyek OBOR China Bukan Jebakan Utang







GELORA.CO - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan, Indonesia bisa terhindar dari jebakan utang (debt trap) dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT/China) melalui adanya program "Jalur Sutra Modern” (Belt and Road Initiative).

“Ada yang memperingati debt trap, itu untuk yang skemanya tidak seperti kita. Kita tidak melakukan perjanjian G to G (antar pemerintah) Skema B to B (antar badan usaha) itu sangat baik untuk mengurangi resiko jebakan ini,” ujar Menko Luhut saat diwawancarai media Cina pada hari Jumat (26/4) melalui keterangan tertulis yang diterima, Minggu (28/4).

Jelas Luhut, terhindarnya utang dari negara Tiongkok melalui program BRI ini karena tidak ada uang pemerintah yang disertakan dalam proyek-proyek tersebut, sehingga menguatkan prinsip  sama-sama untung.

Dalam hal ini, pemerintah hanya terlibat dalam studi kelayakannya, menyangkut lingkungan hidup, nilai tambah, transfer teknologi, B to B dan pemanfaatan tenaga kerja lokal. 

Seperti halnya kata Luhut, di Indonesia Timur masih kekurangan tenaga kerja andal dalam bidang teknologi. 

“Seperti yang kami lakukan di Morowali, sekarang kami sudah punya politeknik yang mendidik calon-calon tenaga kerja dalam bidang teknik, setelah 3-4 tahun nanti mereka akan menggantikan tenaga-tenaga kerja asing yang ada di sana. Sehingga anak-anak Indonesia, pekerja-pekerja Indonesia, akan ikut menikmati juga. Inilah yang disebut sama-sama untung,” jelasnya. 

Sementara itu, saat ditanya apakah benar proyek infrastruktur di Indonesia tidak menguntungkan, Menko Luhut menjawab hasil pembangunan infrastruktur tidak bisa langsung dirasakan. 

“Infrastruktur itu sebenarnya memperkaya, karena akan menurunkan cost, tetapi tidak bisa terlihat hasilnya dalam 1-2 tahun, mungkin baru terasa hasilnya dalam 4-5 tahun. Sekarang Cina telah menikmati pembangunan Infrastukturnya. Kami, Indonesia baru bisa menikmatinya dalam sekitar lima tahun ke depan,” jawabnya.

Dari pidato Presiden Cina Xi Jinping pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRI hari Jumat lalu, Menko Luhut menangkap kesan Cina akan memainkan peran yang lebih kuat lagi di era ini. 

“Ini sebenarnya gerakan baru, peralihan kekuatan sedang terjadi sekarang. PM Mahathir pun messagenya sama, keterbukaan, pendidikan, kerjasama, pendanaan. Banyak negara-negara Eropa yang hadir seperti Italia, Swiss, Jerman pun ikut di sini. Negara-negara Latin dan Afrika kan sudah lebih dulu dalam Jalur Sutra ini. Ini menunjukkan gravitasi politik dan ekonomi dunia sedang bergeser dari Barat ke Timur,” kata Menko Luhut. 

Sebelumnya dalam pidato Presiden Xi dalam acara BRI ini, Tiongkok tidak berusaha menjebak siapa pun dengan utang dan hanya memiliki niat baik, sebab inisiatif jalan Sutra akan fokus pada transparansi dan pemerintahan yang bersih. 

Proyek besar infrastruktur dan perdagangan harus menghasilkan pertumbuhan "berkualitas tinggi" bagi semua orang.

Menko Luhut juga melihat Jalur Sutra bukanlah ancaman bagi perekonomian global tetapi malah meningkatkan competitiveness di kawasan. 

“Kita melihat Uni Eropa memperluas rencana konektivitas blok Eropa-Asia, Rusia membangun Uni Ekonomi Eurasia, dan Amerika Serikat menciptakan kemitraan investasi infrastruktur Indo-Pasifik,” tandasnya.  [rm]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: