Perang Twit Andi Arief dan Mahfud MD soal Presidential Threshold 20 Persen







GELORA.CO - Politikus Partai Demokrat Andi Arief dan Mantan Ketua MK Mahfud MD terlibat perdebatan terkait presidential threshold 20 persen. Andi menyoal sikap Mahfud yang dinilainya 'plinplan' terkait hal tersebut. 

Perdebatan bermula ketika Andi mengomentari pemberitaan yang menyebut Mahfud MD mengusulkan agar presidential threshold 20 persen ditinjau kembali. Menurut Andi, sikap Mafhud ini berbeda dengan sikapnya dulu yang mendukung persyaratan pengajuan Capres tersebut. 

"Dulu setuju, sadar belakangan. Pasti lagi tremor ini," tulis Andi, Kamis (25/4). 

Sontak, cuitan Andi itu ditanggapi pedas oleh Mahfud. Menurutnya, ia telah lama menyatakan sikap tidak setuju dengan threshold 20 persen. Bahkan sikap penolakannya itu ia sampaikan melalui tulisan yang dimuat media massa nasional. 

"Hahaha, ente Dik. 2 tahun lalu, saat RUU Pemilu sedang dibahas saya sudah nulis di Kompas, dengan terang benderang bahwa saya tak setuju threshold 20%. Saya juga nulis itu untuk makalah di Fraksi Golkar. Saya setujunya 3,5% (parpol yang sudah punya kursi di DPR). Baca-baca dulu, ya, Dik. Pasti ente yang tremor," saut Mahfud. 

Tak hanya, Mahfud kembali mencuit dengan penjelasan yang menguatkan pernyataan bahwa ia menolak PT 20% sejak lama. Ia bahkan meminta kepada Andi Arief untuk banyak membaca sikap penolakannya yang telah dimuat sejumlah media massa itu. 

"Jangan omong sebelum tracking," ujar Mahfud. 

"Heran juga saya pada @AndiArief__. Pendapat saya bahwa threshold Pilpres 20% itu tidak rasional sudah dikutip banyak media dan saya tulis sendiri sebagai jharian di Kompas. Dia masih bilang saya dulu setuju threshold 20%? Itu di cuitan tadi sudah saya lampirkan buktinya. Siapa yang tremor? Kasihan,"sambung Mahfud. 

Seakan tak mau kalah, Andi pun membalas cuitan Mahfud. Andi juga menilai Mahfud cari aman bahkan cenderung lihat arah angin. 

"Anda main aman Prof. Lihat angin. Saat voting di parlemen Anda nggak ngapa-ngapain. Lihat arah angin. Tapi itu kan sikap Anda. Saya hargai," ujar Andi. 

Lebih lanjut, Andi juga menyindir banyaknya sosok intelektual yang cenderung membenarkan yang kuat. 

"Kini banyak intelektual dengan gelar berderet-deret cenderung membenarkan yang kuat ketimbang menguatkan yang benar. Saat voting PT 20 persen atau nol persen mereka di belakang untuk membenarkan yang kuat," tulis Andi tanpa menjelaskan siapa yang dimaksud. [rmol]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: