Prabowo: People Power atau Power Sharing?







Oleh: Andianto*

PEMILIHAN Umum berlangsung pada tanggal 17 April 2019. Pemilu dijadwalkan dari pagi hingga pukul 13.00.

Sesaat setelah pemilu dinyatakan ditutup, beberapa jam kemudian lembaga survei melakukan rilis hasil quick qount. 

Tepat pada pukul 15.00 WIB. Hasil quick count menunjukkan kemenangan pasangan calon nomor 01 yaitu Joko Widodo-Maruf Amin dengan rata-rata perhitungan 56 persen untuk pasangan Jokowi-Maruf Amin dan 44 persen untuk pasangan Prabowo-Sandiaga S Uno.

Beberapa saat setelah pengumuman hasil quick count, Prabowo mengumumkan kemenangan hasil real count BPN dengan angka lebih dari 60 persen. TKN Jokowi pun juga melakukan klaim kemenangan terhadap pasangan calon pilpres dengan angka lebih dari 55 persen.

Saling klaim kemenangan pun terjadi, namun sangat disayangkan karena real count situng KPU sebagai wasit sekaligus penyelenggara pemilu lambat dalam melakukan penghitungan suara.

Hasil real count situng KPU setelah dua minggu baru menunjukkan data masuk sebesar 51,79 persen, dan menempatkan paslon nomor urut 01 sebagai pemenang sementara. 

Jokowi-Maruf unggul sebesar 56,18 persen atau dengan perolehan 44.503.509 suara. Sementara rivalnya, Prabowo-Sandi mendapat 43,82 persen dengan perolehan 34.709.119 suara.

Pemilu kali ini merupakan pemilu yang paling dinamis dengan situasi politik yang sangat panas, d mana kedua pasangan calon masih saling klaim kemenangan.

Pemilu yang sarat dengan isu-isu miring, kubu Prabowo melemparkan pernyataan pemilu paling curang dan kuatnya dominasi asing dan aseng. Sementara kubu Jokowi menuding dengan isu politik identitas dan menantang dengan buka-bukaan data. 

Saling tuding antara kedua kubu pun terus bergulir, yang membuat situasi politik makin panas.

Situasi makin panas dengan maraknya isu kecurangan dalam pemilu berupa isu lembaga survei bayaran, isu situng KPU yang penuh rekayasa, isu pencoblosan suara sebelum pemilu dilaksanakan, isu money politic, isu perubahan data C1, isu berbagai kecurangan yang di-upload dalam bentuk video, isu tidak netralnya penyelenggara dan pengawas pemilu hingga aparat pengamanan dan lembaga pemerintahan, isu data pemilih siluman, hingga sakit dan meninggalnya ribuan penyelenggara dan pengawas pemilu dan isu-isu lain yang terungkap di publik. 

Masyarakat benar-benar dipertontonkan sebuah atraksi politik yang tidak sehat, penuh dengan kebimbangan dan banyak pertanyaan.

Siapa yang akan menjadi pemenang dalam pemilu? Publik harus bersabar sampai dengan tanggal 22 Mei 2019 setelah KPU secara nasional mengumkan hasil rekapitulasi perolehan suara dalam pemilu.

Apabila melihat dari data real qount situng KPU maka pasangan 01-lah sebagai pemenang pemilu. Namun rakyat harus bersabar menunggu sampai dengan ada keputusan resmi dari KPU.

Hanya ada dua pasangan calon Pilpres dalam pemilu 2019, bila berasumsi pasangan 01 yang menjadi pemenang pemilu, maka langkah apa yang akan ditempuh oleh kubu 02? Begitu juga sebaliknya...

Bila asumsi pasangan 01 diumumkan menjadi pemenang pemilu, langkah apa yang akan diambil oleh kubu 02, people power atau power sharing?

People power menurut Prof. DR. Amin Rais dilakukan dengan melakukan gerakan massa yang cukup besar untuk menyatakan mosi tidak percaya kepada penyelenggara pemilu dan mendelegitimasi hasil pemilu. 

Sedangkan power sharing menurut Samuel P Hatington merupakan pembagian kekuasaan, apabila ada dua kekuatan besar yang saling bertarung maka bila tidak ingin hancur salah satunya, harus ada titik temu antara kedua belah pihak (titik kompromi). Dalam titik kompromi itulah terjadi pembagian kekuasaan.

Apabila kubu Prabowo mengambil langkah untuk people power tentu resikonya akan berhadapan dengan aparat keamanan. 

Selama ini memang kubu Prabowo mempunyai masa militan yang cukup besar dengan kekuatan utama pada Ijtima Ulama, di dalamnya adalah merupakan alumni 411 dan 212 ditambah dengan kekuatan emak-emak.

Mampukah kekuatan tersebut mendobrak aparat keamanan dan incumbent? Tentu saja masih menjadi pertanyaan besar, karena kekuatan Islam sebagai kekuatan simbol mayoritas, sangat kecil kemungkinan akan melakukan benturan dengan aparat keamanan atau pun dengan pemerintah.

Militansi pendukung kubu Prabowo memang sangat luar biasa, tetapi untuk diarahkan ke sebuah gerakan poeple power berbagai pihak masih meragukannya. 

Terlebih kekuatan aktifis dan mahasiswa serta buruh tidak bergabung secara massif dalam gerakan tersebut.

Sementara sejarah gerakan-gerakan besar di republik selalu didominasi oleh kekuatan pemuda dan mahasiswa serta buruh seperti perang untuk merebut kemerdekaan, peristiwa malari maupun reformasi 1998, dengan dukungan dari TNI.

Pilihan kedua kubu Prabowo mengambil langkah untuk melakukan power sharing. Bertemu dengan kubu Jokowi dan meminta kompensasi atas kekuasaan.

Apabila langkah kedua ini yang diambil, maka resikonya Prabowo akan ditinggalkan oleh pengikutnya. Hal ini juga dapat berimbas pada perolehan suara pemilu Partai Gerindra yang akan datang.

Masa pendukung Prabowo akan mengalami dua kekecewaan. Pertama kecewa terhadap pemerintahan Jokowi dan kecewa terhadap sikap Prabowo.

Akumulasi kekecewaan tersebut bisa menjadikan pendukung Prabowo mengambil langkah untuk mencari keadilan dengan caranya sendiri.

Kemungkinan ketiga, kubu Prabowo bersama Gerindra dan PKS akan menjadi barisan oposisi selama lima tahun ke depan. Sementara PAN dan Demokrat lebih cenderung untuk masuk dalam koalisi pemerintah.

Apabila kubu Prabowo menang, apakah isu perubahan akan tercipta, atau bahkan sebaliknya, rakyat menjadi bertambah susah? Lalu langkah apakah yang akan dilakukan oleh kubu Jokowi. Apakah kubu Jokowi juga akan mengambil salah satu dari tiga pilihan di atas?

*) Ketua Umum Gerakan Aktifis Pasca Reformasi (Gerak Reformasi)

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: