Real Count KPU 02 Menang, Quick Count-nya Malah 01, Ini Kata Indo Barometer dan Poltracking







GELORA.CO - Hasil quick count di Bengkulu dari dua lembaga survei yaitu Indo Barometer dan  Poltracking, meleset dari hasil scan C1 KPU yang sudah 100 persen dipublikasikan di Sistem Informasi Penghitungan (Situng). Kedua lembaga itu merilis Jokowi menang, namun di website Situng KPU, Prabowo yang menang.

Angka detailnya sebagai berikut:

Situng KPU

- Prabowo-Sandi: 50,13 persen

- Jokowi-Ma'ruf: 49,87 persen

Indo Barometer

Jokowi-Ma'ruf: 51,40 persen

Prabowo-Sandi: 48.60 persen

Poltracking

Jokowi-Ma'ruf: 58,78 persen 

Prabowo-Sandi: 41,22 persen

Penjelasan Lembaga Survei

Kedua lembaga survei itu lalu memberi penjelasan mengapa hasil quick count mereka berbeda dengan data di Situng KPU. Mereka tak membantah angka quick count mereka memang berbeda dengan Situng KPU, namun hal itu dianggap masih dalam toleransi margin of error. Secara nasional margin of errornya memang +/- 1 persen, namun menjadi lebih besar di provinsi.

Peneliti Indo Barometer, Tomo, menjelaskan, lembaganya hanya menggunakan 9 sampel TPS di Bengkulu, sehingga angka margin of error-nya melebar. Namun, dia memastikan, untuk total suara nasional, tidak akan berbeda jauh dari hasil quick count Indo Barometer.

"Sampel kami di Bengkulu hanya 9 TPS jadi makin sedikit sampelnya, margin of error makin besar. Namun secara nasional margin of error tetap 1 persen. Lagi pula perbedaan kami antara suara Jokowi dan Prabowo tipis," jelas Tomo.

Manajer Riset Poltracking Indonesia, Arya Budi, menjelasakan hal yang sama ada margin of error di Bengkulu yang ternyata lebih besar dari nasional, yaitu 9,65 persen.

"Untuk case Bengkulu sendiri, berdasarkan data cross tabulasi, margin of errornya mencapai 9,65% persen, karena sampel TPS di sana mengecil yaitu sebaran klusternya 0,75 persen atau di bawah 1 persen," papar Arya Budi.

Meski begitu, secara nasional yang margin of errornya 1 persen, dia meyakini tidak akan berbeda jauh dari hasil Situng KPU. Karena itu dia menyarankan quick count tetap dibaca secara nasional.

"Quick count Pilpres sebaiknya dilihat prosentase agregat nasional, bukan cross tabulasi per provinsi karena akan menimbulkan mispersepsi karena error tinggi," tegasnya. [kp]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: