Sindir Bupati Sukabumi “Jajan-Jajan” ke Australia, Pegiat Medsos Diperiksa Polisi







GELORA.CO - Pegiat media sosial (medsos), Irwan Kurniawan diperiksa polisi gara-gara statusnya di media sosial Facebook yang menyindir Bupati Sukabumi “jajan-jajan” ke Australia.

Mantan jurnalis itu diperiksa atas laporan seseorang yang tidak diketahui identitasnya.

Dalam laporan polisi nomor B/627/VII/2019/Sat Reskrim tentang permintaan klarifikasi kepada Irwan Kurniawan, tidak disebutkan siapa pelapornya.

Dalam surat tersebut, polisi hanya menyebutkan menerima pengaduan tertanggal 11 Juli 2019, tentang adanya dugaan tindak pindana penghinaan atau pencemaran nama baik.

Pengaduan itu ditindaklanjuti dengan menerbitkan surat perintah penyelidikan bernomor: Sp.Lidik/ /VII/2019 Satreskrim tertanggal 11 Juli 2019.

Irwan Kurniawan akhirnya memenuhi panggilan polisi pada Senin (15/7) kemarin. Ia diperiksa di Polres Sukabumi, sekitar pukul 09.30 WIB.

Irwan Kurniawan diperiksa terkait statusnya “jajan-jajan” Bupati Sukabumi.

Irwan mengaku menjalani pemeriksaan sekitar 1,5 jam. Ia diperiksa terkait postingannya di Facebook pada 5 Juli lalu yang menyindir perjalanan dinas Bupati Sukabumi, Marwan Hamami ke Australia.

Status itu ditulis Irwan dalam bahasa Sunda.

“Didoakeun sing salamet di perjalanan ka Australia na. Uwih deui bari hasil nu dimaksud sanes sakadar “Jajan-jajan”. (Didoakan agar selamat di perjalanan ke Australia. Pulang lagi membawa hasil yang dimaksud, bukan sekadar “Jajan-jajan”.) demikian status Irwan di Facebook.


Meski tak menyebut nama, Irwan mengakui status itu ditujukan kepada Bupati Sukabumi sebagai bentuk kritik.

“Bagi saya perspektif jajan jajan yah tidak sekadar jajan, jalan jalan bawa oleh-oleh saja. Tapi bawa hasil yang signifikan atas kunjungan ke Austrlia tersebut,” kata Irwan kepada Pojoksatu.id, Selasa (16/7).

“Tapi sepertinya ada pihak bupati yang menganalogikan kata jajan jajan itu yang negatif,” tambah Irwan.

Irwan membantah kata “Jajan-jajan” yang dia tulis dikonotasikan berzina dengan PSK.

“Terlalu jauh, terlalu ngeres, apalagi sampai pakai perspektif budaya Sunda,” tambah Irwan.

“Mereka sendiri yang mengartikannya kalimat jajan jajan jadi berkonotasi jelek,” tandas Irwan.[psid]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: