Kekerasan Terhadap Orang Indonesia Di Philadelphia Semakin Marak


GELORA.CO - Kabar kurang menyenangkan dari Philadelphia, Amerika Serikat. Dilaporkan aksi kekerasan terhadap warganegara Indonesia di kota itu semakin marak belakangan ini.

Indonesia Lantern dalam laporannya beberapa saat lalu menuliskan, dalam satu bulan terakhir setidaknya tujuh warganegara Indonesia menjadi korban kejhatan di kawasan Philadelphia Selatan.

Dari ketujuh korban itu, empat di antaranya adalah wanita.

Menurut Indonesia Lantern, kasus pertama dialami seorang wanita berusia sekitar 40 tahun yang di dalam laporan itu disebut bernama Milenia. Ia dirampok dua pria tak dikenal di McClellan Street, antara S 18th dan S 17th Street.

Korban berikutnya disebutkan bernama Diana, berusia sekitar 60 tahun, saat hendak menuju warung ”Du Market”. Akibat serangan itu, dahi Diana memar, dan bagian kepala luka serius.

Wanita Indonesia lain yang disebutkan bernama Milan, juga mengalami serangan di bulan Oktober lalu. 

Pimpinan kelompok pekerja Indonesia di perusahaan Direct Mail Advertising itu dirampok usai pulang kerja oleh dua orang tak dikenal saat menunggu mobil jeputan.

Satu amplop gaji Milan dan dua amplop gaji titipan dua pekerja Indonesia lainnya dirampas.

Kejadian yang lebih tragis dialami korban yang disebutkan bernama Hana (53) dan Danu (52). Mereka dirampok di 16 th dan Chadwick Street, pada 21 Desember sekitar pukul 19.00 waktu setempat.

Hana yang membawa tas selempang merah, mengaku ditarik lehernya oleh pelaku dan dibanting ke sebuah mobil yang parkir di tepi jalan.

“Kami sedang berjalan ke arah 17 th dan Mifflin Street, penjahatnya datang dari arah berlawanan dan langsung menyerang saya,” kata wanita yang disebutkan berasal dari Bandung dan baru empat minggu tinggal di Philadelphia itu.

Melihat Hana diserang menggunakan pemukul baseball, Danu berniat menolong tetapi dia langsung dipukuli oleh empat penjahat.

“Saya dipukul, dibanting ke trotoar dan diinjak-injak oleh mereka,” ujar Danu kepada Indonesia Lantern.

Suara Hana yang menjerit-jerit minta tolong didengar penduduk sekitar yang langsung ke luar rumah untuk memberi pertolongan.

“Mereka mengangkat saya dan Danu dari trotoar, lalu memanggil polisi,” ujar Hana.

Lelaki separuh baya yang hanya luka lebam itu, akhirnya diizinkan pulang oleh dokter di RS Methodist.

Tetapi Danu yang mengalami patah tulang di bagian dengkul dan paha kiri terpaksa dibawa ke RS Jefferson di daerah Center City untuk menjalani operasi.

Hana mengaku kehilangan sejumlah uang, telepon genggam dan jam tangan sedangkan Danu kehilangan 2 paspor dan uang.

Ketika dikunjungi Indonesia Lantern hari Kamis lalu (27/12)  Danu mengatakan paspornya sudah ditemukan oleh dua orang berbeda yang kemudian mengontaknya lewat Facebook messenger.

“Saya bahagia sekali, masih ada orang baik di dunia ini,” katanya sambil tertawa.

Menurut Danu, dia datang ke Philadelphia dua minggu sebelum musibah itu untuk menikmati liburan musim dingin di Amerika.

Dengan luka saya ini, dokter bilang saya butuh setidaknya tiga bulan untuk pulih,” katanya lirih.

Bulan September lalu, seorang agen tenaga kerja Indonesia di Philadelphia dirampok saat mengambil uang tunai di sebuah kantor penyelenggara keuangan. Uang tunai sekitar $ 100 ribu mulanya hendak digunakan untuk membayar gaji mingguan warga Indonesia yang bekerja di sejumlah pabrik sekitar Philadelphia.

Sabtu lalu, seorang pria Indonesia juga dirampok saat hendak masuk ke pusat makanan Indonesia Toko Borobudur. Lelaki beranak dua ini diserang dan disergap. Uang tunai hasil gajiannya selama seminggu senilai $ 700 dirampas oleh pelaku yang berkulit hitam.

Berdasarkan pengakuan para korban, ciri-ciri kedua pelakunya berkulit warna hitam berusia sekitar 18 tahun hingga 28 tahun. Satu orang bertinggi badan 182 centimeter, dan seorang lainnya dengan tinggi badan 160 sentimeter.

Karena aksi kekerasan kebanyakan terjadi di kawasan Philadelphia Selatan, maka kuat dugaan pelakunya juga tinggal di kawasan tersebut.

Korban terakhir juga mengalami nasib sama dengan peristiwa dua pekan sebelumnya, dan di tempat yang sama di sekitar warung makanan Borobudur, dan Toko Ramayana, pusat belanja Indonesia, masih di kawasan Selatan Philadelphia.(rmol)

Tidak ada komentar untuk "Kekerasan Terhadap Orang Indonesia Di Philadelphia Semakin Marak"