Kemenag Rilis Toleransi Agama Jabar Rendah, Pemkot Bandung Membela


GELORA.CO - Provinsi Jawa Barat masih terbilang rendah dalam indeks toleransi beragama. Hal itu berdasarkan indeks kerukunan beragama tahun 2019 yang dirilis Kementerian Agama (Kemenag).

Dalam rilis tersebut, Jabar berada di rangking ketiga dengan angka 68,5 persen.

Merespons hal itu, Sekretaris Daerah Kota Bandung, Ema Sumarna berharap Kota Bandung tidak menjadi kontribusi paling besar lantaran kehidupan toleransi di Kota Bandung sudah sangat baik.

“Itu dibuktikan di kita tidak pernah ada konflik, apalagi yang berlandaskan masalah sensitif yaitu agama. Ada gak kasus gangguan ke tempat ibadah? Kan gak ada. Artinya di Bandung kehidupan toleransi sudah sangat baik,” aku Ema saat ditemui usai diskusi Bandung Dalam Bingkai Toleransi Warga di Sekretariat Second House, Jalan Tubagus Ismail, Kota Bandung, Selasa (24/12).

Ema mengaku, saat ini warga Kota Bandung sudah menerapkan sikap toleransi. Bahkan Pemkot Bandung sendiri sudah berupaya menanamkan sikap toleransi melalui berbagai program.

“Tadi dari Kesbangpol, kita ada kemah kebangsaan, bela negara yang kita lakukan dan itu masuk juga di level-level pendidikan, seperti SD SMP dan SMA. Karena pembangunan karakter jauh lebih tepatnya disana,” tambah Ema dilansir Kantor Berita RMOLJabar.

“Di Era Oded (Wali Kota) ada keunikan, setiap ada perayaan hari besar berbagai agama, semua pemangku dan tokoh agama diundang ke rumah dinas. Makan malam dan saling mengucapkan,” tuturnya.

Saat ini, di Kota Bandung sudah memiliki 5 kampung toleransi. Kampung toleransi sebagai wahana edukasi, dan wahana wisata religi untuk menanamkan sikap toleransi.

“Pada saat Pemilu kemarin di TPPS sana (Kampung Toleransi), pelaksananya tidak hanya didominasi oleh satu ras dan agama tertentu. Indahnya sangat luar biasa. Bisa dijadikan contoh, ini menjadi bagian kultur dan peradaban di Kota Bandung menjadi lebih maksimal,” tandasnya. (Rmol)

Tidak ada komentar untuk "Kemenag Rilis Toleransi Agama Jabar Rendah, Pemkot Bandung Membela"