BPPT Memodifikasi Cuaca untuk Atasi Banjir di Jabodetabek







GELORA.CO - Untuk mengurangi curah hujan di wilayah Jabodetabek, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan modifikasi cuaca sejak Jumat pagi (3/1/2020). Operasi dilakukan bersama BNPB, BMKG, LAPAN, serta TNI Angkatan Udara. Dengan modifikasi cuaca ini diharapkan curah hujan di wilayah Jabodetabek akan berkurang 30-35 persen sehingga mengurangi potensi banjir.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Teknolog (BBTMC-BPPT) Tri Handoko Seto menjelaskan, secara umum awan yang berpoten hujan berasal dari barat dan barat laut. Karena itu sepanjang Jumat lalu tim dari BBTMC menyemai garam di awan-awan yang tumbuh di selat Sunda dan perairan Jawa Barat.

"Tujuannya agar hujan segera turun sebelum memasuki Jabodetabek. Itu yang kemudian secara awam dikenal sebagai menggeser, padahal tidak seperti itu. Tapi awan yang datang kemudian kita cegat (agar jadi hujan di lautan bukan di darat)," kata Seto di Kantor BPPT, Jumat.

Operasi TMC ini akan dilakukan hingga Jabodetabek aman dari ancaman banjir. Karena BMKG memprakirakan curah hujan tinggi akan berlangsung hingga Februari, operasi dilakukan juga pada malam hari dengan menggunakan pesawat CN-295.

Modifikasi cuaca ini, kata doktor bidang Meterologi dan Geofisika dari Universitas Kyoto, Jepang itu, pernah dilakukan pasca banjir yang melumpuhkan Jakarta pada 2013. Waktu itu operasi berlangsung dari 26 Januari sampai 27 Februari 2013.

Selain itu, TMC juga pernah dimanfaatkan saat terjadi kebakaran hutan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. Bedanya, waktu itu penyemaian garam justru dilakukan agar hujan turun di daratan, khususnya di kawasan yang terbakar.

Ke depan, kata Tri Handoko Seto, upaya mencegah kebakaran hutan akan dilakukan TMC sebelum musim kemarau tiba. Lahan gambut akan sengaja diguyur hujan buatan agar basah sehingga saat kemarau tidak terlalu kering dan mudah terbakar.

Uji coba TMC pertama kali dilakukan pada 1977 atas gagasan Presiden Soeharto. Kala itu, Soeharto terpikat oleh kemajuan bidang pertanian di Thailand. Rupanya di sana persoalan air berhasil disiasati lewat TMC. BJ Habibie melalui Advance Teknologi sebagai embrio BPPT kemudian mengirim para ahli untuk belajar TMC di Thailand.

"Jadi TMC ini semula untuk dunia pertanian, pengisian waduk. Kita manfaatkan juga untuk mengurangi kebakaran hutan dan lahan," kata Seto.

Sayangnya pemanfaat TMC untuk pertanian di Indonesia kemudian tidak berjalan sesuai cita-cita awal. Kenapa pula pemanfaatan TMC untuk mengurangi polusi udara di DKI Jakarta beberapa bulan lalu batal dilakukan? Selengkapnya, saksikan Blak-blakan dengan Kepala Balai Besar TMC - BPPT, Tri Handoko Seto, Senin (6/1/2020). [dt]

Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: