Bukan Rumah Mereka



OLEH: TRIAS KUNCAHYO
 RESTORASI Meiji dikenal juga dengan sebutan Meiji Ishin, Revolusi, atau Pembaruan, adalah rangkaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Zaman Meiji (Meiji jidai), atau periode Meiji, menandakan 45 tahun berkuasanya Kaisar Meiji, dari 23 Oktober 1868 hingga 30 Juli 1912.

Selama masa ini, Jepang memulai modernisasi secara besar-besaran dan menunjukkan kekuatannya pada dunia. Jepang mengadopsi beberapa institusi Barat pada periode Meiji, termasuk pemerintahan modern, sistem hukum, dan militer. Perubahan-perubahan ini mengubah Kekaisaran Jepang menjadi kekuatan dunia.

Sejak Restorasi Meiji inilah, Jepang menjadi terbuka pada berbagai pengaruh dari negara Barat. Pada abad itu, westernisasi terjadi di segala bidang: pemerintahan, militer, ekonomi, teknologi, dan lain-lain. Zaman Meiji ini mengakhiri 265 tahun berdirinya Keshogunan Tokugawa yang feodalistis.

Hal yang  hampir mirip dilakukan Turki di bawah pimpinan Mustapha Kemal Atarturk. Turki yang pernah menjadi pusat kekuatan politik dan militer yang disegani dunia selama enam abad di bawah kesultanan Usmani (Ottoman) berakhir dengan setelah PD I. Eksistensi Turki sebagai sebuah bangsa diselamatkan oleh Mustapha Kemal Ataturk yang memperkenalkan prinsip republikanisme dan sekularisme.

Prinsip republikanisme dan sekularisme yang diperjuangkan Mustapha Kemal Ataturk merupakan antitesis terhadap ideologi dinasti Islamisme Ottomanisme. Ideologi Turkisme ditampilkan sebagai antitesis terhadap Pan-Ottomanisme.

Transisi dari Kesultanan Ottoman ke Republik Turki termasuk reorganisasi politik yang pada akhirnya menjadikan Turki sebagai sebuah nation-state, mengikuti model Barat.

Misi Atarturk adalah menjadikan bangsa Turki setara dengan bangsa Eropa secara sosial, pendidikan dan kultural, serta menjadikan Turki bagian dari komunitas internasional bangsa-bangsa moderen (Trias Kuncahyono, Turki, Revolusi Tak Pernah Henti; 2018).

Jalan seperti itulah yang sebelumnya sudah ditempuh Jepang. Yusuke Shindo dalam Mengenal Jepang (2015), sejak dilancarkannya Restorasi Meiji, orang Jepang bekerja keras agar dapat menyamai Barat, antara lain dalam bidang modernisasi.

Orang Jepang mendirikan pabrik untuk dapat menyamai Eropa. Mereka juga membuat kapal. Meningkatkan industri pertanian, terutama padi. Masih banyak kebijakan lainnya yang penting untuk menjadikan Jepang sebagai negara maju. Yang paling penting dari semua itu adalah pemikiran untuk “membuat manusia” melalui pendidikan.

Bidang pendidikan dianggap yang paling penting. Pendidikan akan dapat menghasilkan orang-orang hebat. Sehingga akhirnya ditetapkan bahwa anak berusia 6 tahun ke atas wajib mengenyam pendidikan. Tujuan utama pembangunan pendidikan adalah untuk “membuat manusia” maju. Penekanan pada pendidikan menjadi salah satu rahasia pembangunan Jepang di era Meiji yang buahnya dinikmati sekarang.

“Membuat manusia” itulah kata kuncinya. Manusia yang berbudaya. Manusia yang unggul. Manusia yang terdidik. Manusia yang memiliki disiplin tinggi. Manusia yang kreatif sekaligus dinamis. Manusia pekerja keras; manusia pekerja, homo faber. Pekerjaan adalah hal yang utama di dalam kehidupan manusia.

Dalam konsep ini, kemampuan manusia (terdidik, berbudaya) diukur berdasarkan prestasi kerjanya maupun apa yang dihasilkan. Nilai-nilai kehidupan manusia ditemukan melalui apa yang mereka kerjakan. Oleh karena itu, sejak semula manusia dipanggil untuk bekerja.

Kerja itu salah satu ciri yang membedakan manusia dari makhluk-ciptaan lainnya. Hanya manusialah yang mampu bekerja; hanya manusialah yang bekerja, dan serta-merta dengan kerjanya mengisi hidupnya di dunia. Begitulah kerja secara khas ditandai oleh manusia dan kemanusiaan, oleh pribadi yang bekerja dalam persekutuan pribadi-pribadi. Kerja merupakan dimensi mendasar hidup manusia di dunia.

Dari bekerja itulah, manusia beroleh martabatnya yang istimewa. Sewaktu bekerja, manusia melatih dan melaksanakan sebagian dari kemampuan kodratinya. Nilai utama dari pekerjaan itu datang dari manusia sendiri yang menciptakannya dan yang menerima keuntungannya. Perlu dicatat bahwa pekerjaan memang untuk manusia, dan bukan manusia untuk pekerjaan.

Tiap orang harus dapat menghasilkan melalui pekerjaan itu sarana-sarana untuk memelihara diri sendiri dan keluarganya dan supaya ia dapat menyumbang bagi persekutuan manusia.

Dalam rumusan lain dapat dikatakan bahwa kerja merupakan dimensi fundamental kehidupan manusia. Karena itu, kerja merupakan sesuatu hal yang baik bagi manusia. Dalam arti, kerja tidak hanya bermanfaat dan bisa dinikmati hasilnya, namun terutama karena kerja sesuai dengan martabat manusia. Kerja mengungkapkan dan meningkatkan martabat manusia.

Dengan kata lain, kerja merupakan hal yang baik bagi manusia sebab melalui kerja manusia mengubah alam, menyesuaikannya dengan kebutuhan- kebutuhannya sendiri serta mencapai pemenuhannya sebagai makhluk manusia, menjadi “lebih manusiawi.”

Keberhasilan sebuah bangsa terletak pada etos kerja (culture) mereka. Dalam buku berjudul Culture Matters: How Values Shape Human Progress (2001) dijelaskan pertanyaan mengapa beberapa negara dan kelompok etnis lebih baik daripada yang lain, dan peran yang dimainkan nilai-nilai budaya dalam menggerakkan pembangunan politik, ekonomi, dan sosial.

Samuel P Huntington sebagai editor buku tersebut, bersama Lawrence E. Harrison menulis prakata, Ghana dan Korea Selatan pada awal 1960-an, perekonomian mereka sangat miripnya. Kedua negara ini memiliki tingkat yang hampir sebanding GNP per kapitanya; divisi serupa dari ekonomi mereka di antara produk primer, manufaktur, dan layanan; dan ekspor produk yang sangat utama, dengan Korea Selatan memproduksi beberapa barang.

Mereka juga menerima bantuan ekonomi yang sebanding. Tiga puluh tahun kemudian, Korea Selatan telah menjadi raksasa industri dengan perusahaan multinasional, ekspor utama mobil, elektronik peralatan, dan manufaktur canggih lainnya. Sebaliknya, tidak ada perubahan seperti itu terjadi di Ghana. GNP per kapita-nya sekitar seperlima Korea Selatan.

Bagaimana perbedaan yang luar biasa dalam pengembangan ini dapat dijelaskan? Banyak faktor yang berperan. Tetapi, menurut Huntington, kebudayaanlah yang menjadi bagian besar dari penjelasan. Warga Korea Selatan menghargai penghematan, investasi, kerja keras, pendidikan, organisasi, dan disiplin. Ghana memiliki nilai yang berbeda. Singkatnya, budaya penting!

Para cerdik cendikia mengatakan, peran budaya dalam membangun bangsa sangat mendasar karena menyangkut nilai-nilai kehidupan yang melandasi sebuah tatanan kehidupan masyarakat. Kemajuan Korea Selatan, juga Jepang, adalah sebuah contoh nyata bagaimana kebudayaan mereka berhasil dikapitalisasi menjadi produk-produk industri kreatif. Dan kemudian, dijual ke negara-negara lain.

Hal ini hanya dimungkinkan jika nilai-nilai budaya mereka telah mengakar kuat sebagai sendi kehidupan masyarakat. Artinya, rakyat Korsel dan Jepang adalah masyarakat yang menjadikan tradisi dan budaya mereka sebagai landasan dalam setiap sendi kehidupan. Kalau bangsa lain bisa, maka bangsa Indonesia pun semestinya juga bisa. Karena kita memiliki warisan budaya yang tidak kalah adiluhung-nya, yang bisa menggerakkan ekonomi.

Tentu, dengan catatan, semua pihak bersepakat bahwa kepentingan nasional, kepentingan bangsa menjadi nomor satu, menjadi yang utama dan diutamakan. Sebab, Indonesia adalah rumah kita bersama; bukan rumah dia, bukan rumah mereka, bukan rumah kami, apalagi bukan rumah saya. Tetapi, Indonesia adalah Rumah Kita Bersama. Rumah Kita Bersama yang harus kita jaga bersama.

Selamat Tahun Baru 2020.

(Artikel ini dimuat pertama kali di website TriasKun.Id, dimuat atas izin penulis.)

Tidak ada komentar untuk "Bukan Rumah Mereka"