Curhat Pengikut Keraton Agung Sejagat: Kapok hingga Keplok-keplok


GELORA.CO - Para pengikut Keraton Agung Sejagat buka suara usai sang 'raja' dan 'ratu' ditangkap polisi. Ada di antara mereka yang merasa kapok, dirugikan, tapi ada juga yang keplok-keplok atau tepuk tangan bersorak senang.

Setiyono Eko Pratolo, salah seorang yang merasa kapok karena terbuai janji manis 'raja' Toto Santoso dan 'ratu' Fanni Aminadia. Eko yang menyandang bintang tiga saat menjadi pengikut Keraton Agung Sejagat, telah menyetorkan sejumlah uang karena percaya akan mendapat gaji nantinya.

Tak hanya itu, meski jadi pengikut keraton yang terletak di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo ini, Eko ternyata tak tahu tentang seluk beluk keraton itu. Mulai dari prasasti, hingga logo-logo di di Keraton Agung Sejagat. Eko berharap tak ada orang lain yang senasib dengannya.

"Apalagi sampai lambang, saya nggak paham blas (sama sekali). Cuma yang di dalam istana ada tombak, terus lambang-lambang yang di dalam gambar," kata Eko kepada wartawan, Kamis (16/1).

Lain Eko, lain Hadi Suroso. Suroso merupakan warga Kecamatan Playen, Gunungkidul. Dia pernah menjadi koordinator lembaga bentukan Toto yakni Gunungkidul Development Committee (DEC) dan didapuk menjadi koordinator dan mendapat mandat merekrut anggota.

Suroso dijanjikan tunjangan 500 dolar setiap bulannya, namun tidak dijelaskan uang dolar dalam mata uang mana. Uang itu diklaim merupakan dana dari luar negeri untuk kesejahteraan anggota.

"Ngayawara (mengada-ada) itu," ucap Suroso saat berbincang di kediamannya Dusun Tumpak, Desa Ngawu, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Rabu (15/1/2020).

Padahal selama menjadi koordinator, Mbah Roso mengaku menanggung biaya operasional dan pengeluaran Gunungkidul DEC. Dia bahkan sampai menjual lahan pertaniannya karena duit yang dijanjikan tak kunjung terealisasi.

"Lha kalau saya seneng, Mas, dia tertangkap. Keplok-keplok (tepuk tangan) saya," ujar Roso.(dtk)

Tidak ada komentar untuk "Curhat Pengikut Keraton Agung Sejagat: Kapok hingga Keplok-keplok"