Tips Dari Fahri Hamzah Untuk Berantas Korupsi



GELORA.CO - Pada dasarnya, korupsi merupakan hal yang mudah dihilangkan. Ilmu pemberantasan korupsi itu sudah ada ratusan tahun di negara maju hingga di Asia dan Afrika. Hanya saja, pemberantasannya tidak boleh sradak sruduk.  

“Tapi kalau ada orang kesulitan ya kita doakan dan kalau diberi amanah berantas korupsi ya diselesaikan. Jangan malah dirayakan keberadaannya dan dijadikan modal bikin keributa,” terang mantan Wakil Ketua DPR RI itu dalam akun Twitter pribadi sesaat lalu, Senin (23/2).

Soal KPK, Fahri menjelaskan bahwa layaknya badan eksekutif yang bekerja dengan waktu terbatas, KPK sebagai lembaga adhoc juga demikian. Sebab uang yang dipakai bekerja menuntaskan pekerjaanya diambil dari keringat dan jerih payah rakyat, dari pajak hasil bumi dan kekayaan negara.

“Jadi jangan dikasi amanah malah bikin ribut dan masalah nggak diselesaikan,” ujarnya.

Menurutnya, eksekutif negara yang punya kewenangan dan waktu terbatas harus memberikan jangka waktu kapan suatu masalah akan diselesaikan. Jika tidak, maka setiap lima tahun masalah rakyat hanya akan menjadi janji kampanye baru.

“Ini tragedi yang tidak boleh terjadi,” tegas Fahri Hamzah.

Kembali ke korupsi. Fahri Hamzah menegaskan bahwa korupsi adalah sifat penyakit yang berasal dari dalam organisasi negara, yang menimpa pemimpin dan birokrasinya. Maka dari itu, jika korupsi tidak hilang, maka sama saja rakyat hanya sedang menyaksikan pesta pora para pemimpinnya saja.

“Biaya makin mahal, hasil makin minimal,” sambungnya.

Atas alasan itu, Fahri memberikan tips pemberantasan korupsi, yaitu dengan menciptakan sistem yang baik dan benar.

“Ciptakan sistem anti korupsi yang memungkinkan semua orang melihat kebersihan bagai mata air segar yang mengalir dari dalam pemerintahan, jernih dan bersih,” lanjut Fahri Hamzah.

Menurutnya, jika itu terjadi, maka semua akan menjadi baik pada waktu yang tak terlalu lama. Mata air yang bersih akan membasuh jiwa, akal pikiran, dan tubuh bangsa dan rakyat Indonesia menjadi juara.

“Menjadi rahmat alam semesta, menjadi cikal bakal peradaban mulia di mulai di nusantara,” tutupnya.[rmol]