Ketika Bambang Widjojanto Terperangah Baca Hasil Riset Covid19: Ini Mengerikan, Ada 32 Ribu Kasus Positif, Pilihan Makin Sulit

Ketika Bambang Widjojanto Terperangah Baca Hasil Riset Covid19: Ini Mengerikan, Ada 32 Ribu Kasus Positif, Pilihan Makin Sulit

KONTENISLAM.COM - Data pemerintah terkait jumlah kasus positif covid-19 tiap harinya terus bertambah ratusan kasus. Per 11 April 200, jumlah kasus positif mencapai 3.842 orang.

Namun ternyata berdasarkan data riset gabungan ilmuwan dari berbagai universitas dan tim SimcovID mengungkapkan sesungguhnya diperkirakan sudah ada 32 ribu kasus positif corona di Jakarta.

Sontak saja data itu membuat sejumlah kalangan terperangah, termasuk eks Pimpinan KPK Bambang Widjojanto lewat akun Twitternya.

Ia menilai jangan data hasil riset itu perlu diperhatikan terutama demi upaya pencegahan yang lebih besar lagi.

“Hasil Riset ini sangat mengerikan,” kata dia seperti dikutip Pojoksatu.id, Minggu (12/3/3030).

“Sulit utk berkilah. Di Jakarta ada 32 ribu kasus positif corona. Pilihan makin sulit. Pastikan kebijakan PSBB sukses dilakukan utk potong mata rantai sebaran Covid19,” ujarnya.

Data pemerintah memang selama ini yang tetap menjadi rujukan perkembangan kasus covid-19 apakah sudah bisa dikendalikan atau belum.

Tapi, Bambang juga meminta pemerintah tidak menyembunyikan dan menutup-nutupi apapun yang seharusnya diketahui masyarakat.

“Semoga mata rantai kebohongan juga bisa dipotong?” ucap BW, sapaan akrabnya.

Data riset yang dikutip BW adalah hasil riset ilmuwan yang terlibat dalam penelitian berasal dari ITB, Unpad, UGM, Essex and Khalifa University, University of Southern Denmark, Oxford University, ITS, Universitas Brawijaya, dan Universitas Nusa Cendana.

Penelitian ini menggunakan data 31 Maret 2020 yang menyebut ada 747 kasus positif COVID-19 di Jakarta.

Namun, menurut penelitian ini, data yang tercatat hanyalah 2,3 persen dari yang sebenarnya, yakni 32 ribu kasus positif COVID-19.

“Jakarta memiliki kepadatan kasus COVID-19 tertinggi di Indonesia, dengan 315 kasus untuk setiap 100 ribu populasi,” demikian kesimpulan yang tertera dalam ‘Modelling Update’ SimcovID Team dilansir Detik.com dari draft yang diterima pada Kamis (9/4/2020).[pojoksatu]